Iklim merupakan gabungan berbagai kondisi cuaca
sehari-hari atau merupakan rerata cuaca, sehingga iklim tersusun atas berbagai
unsur yang variasinya besar. Meskipun perilaku iklim di bumi cukup rumit tetapi
ada kecenderungan karateristik dan pola tertentu dari unsur iklim di berbagai
daerah yang letaknya saling berjauhan bila faktor utamanya sama. Adanya
kesamaan sifat tersebut menjadi dasar untuk mengelompokkan iklim dalam
kelas-kelas tertentu yang disebut dengan klasifikasi iklim. Klasifikasi iklim
penting diketahui dalam usaha tani sebagai landasan dalam manajemen usaha
pertanian. Hal ini berhubungan dengan pengaruh iklim terhadap usaha tani.
Klasifikasi iklim berguna untuk memperoleh informasi mengenai iklim dalam
bentuk yang umum dan sederhana. Klasifikasi iklim yang banyak digunakan adalah
klasifikasi iklim menurut Schimdth-Ferguson dan Oldeman. Kedua klasifikasi
tersebut memiliki perbedaan yang akan dijelaskan berikut ini.
Klasifikasi Iklim Menurut
Schimdt-Ferguson
Schmidt
Ferguson mengkasifikasikan iklim berdasarkan ukuran bulan basah, bulan lembab
dan bulan kering. Kriteria tersebut mengacu pada jumlah curah hujan yang
diterima setiap daerah. Klasifikasi
iklim Schmidt Ferguson dikembangkan pada tahun 1950. Schmidt adalah guru
besar dan pejabat Direktur Lembaga Meteorologi dan Geofisika di Jakarta,
sedangkan Ferguson adalah seorang guru besar pengelolaan hutan Fakultas
Pertanian Universitas Indonesia pada waktu itu. Mereka berdua membuat
klasifikasi iklim ini dengan alasan sistem klasifikasi yang telah dikenal
seperti Koppen, Thornwaite dan Thornwaite kurang sesuai dengan keadaan di
Indonesia khususnya mengenai teknik menilai curah hujan.
Kriteria
yang digunakan untuk menentukan bulan basah, bulan lembab dan kering adalah
sebagai berikut :
Bulan Basah
(BB) : jumlah curah hujan lebih dari 100 mm/bulan.
Bulan Lembab
(BL) : jumlah curah hujan antara 60-100 mm/bulan.
Bulan Kering
(BK) : jumlah curah hujan kurang dari 60 mm/bulan
Schmidt dan
Ferguson menentukan BB, BL dan BK tahun demi tahun selama pengamatan, yang
kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya. Penentuan tipe iklimnya
mempergunakan tipe iklimnya dengan mempergunakan nilai Q yaitu:
Q : Banyak
Bulan Kering x 100%
Banyak Bulan Basah

Berdasarkan
besarnya nilai Q, maka tipe iklim Schmidt Ferguson digolongkan ke
dalam tipe berikut :

Tipe –tipe hujan diatas mempunyai ciri vegetasi tertentu sebagai berikut :
1. Tipe A : daerah sangat basah dengan ciri vegetasi hutan hujan tropika
2. Tipe B : daerah basah dengan ciri vegetasi hutan hujan tropika
3. Tipe C : daerah agak basah
dengan ciri vegetasi hutan rimba, diantara jenis vegetasi yang gugur daunnya
pada periode musim kemarau, diantaranya jati
4. Tipe D : daerah sedang dengan ciri vegetasi hutan musim
5. Tipe E : daerah agak kering dengan ciri vegetasi hutan sabana
6. Tipe F : daerah kering dengan ciri vegetasi hutan sabana
7. Tipe G : daerah sangat kering dengan ciri vegetasi padang ilalang
8. Tipe H : daerah ekstrim kering dengan ciri vegetasi padang ilalang
Iklim Menurut Oldeman
Penentuan
iklim menurut Oldeman menggunakan dasar yang sama dengan penentuan iklim menurut
Schmidt-Ferguson, yaitu unsur curah hujan. Bulan basah dan bulan kering
dikaitkan dengan kegiatan pertanian di daerah tertentu sehingga penggolongan
iklimnya disebut juga zona agroklimat. Misalnya, jumlah curah hujan sebesar 200
mm tiap bulan dipandang cukup untuk membudidayakan padi sawah. Sedang untuk
membudidayakan palawija, jumlah curah hujan minimal yang diperlukan adalah 100
mm tiap bulan. Selain itu, musim hujan selama 5 bulan dianggap cukup untuk
membudidayakan padi sawah selama satu musim.
Dalam metode ini, dasar penentuan
bulan basah, bulan lembap, dan bulan kering sebagai berikut:
a.
Bulan basah, apabila curah hujan > 200 mm.
b.
Bulan lembab, apabila curah hujan anatar 100-200 mm.
c.
Bulan kering, apabila curah hujan < 100 mm
Berdasarkan bulan basah, Oldeman
menentukan lima klasifikasi iklim atau daerah agroklimat utama seperti tabel
berikut ini.
Berikut ini adalah tipe-tipe iklim menurut Oldeman
1.
Iklim A : jika terdapat lebih dari 9 bulan basah berurutan.
2.
Iklim B : jika terdapat lebih dari 9 bulan basah berurutan.
3.
Iklim C : jika terdapat 5-6 bulan basah berurutan.
4.
Iklim D : jika terdapat 3-4 bulan basah berurutan.
5.
Iklim E : jika terdapat kurang dari 3 bulan basah berurutan.
Sumber Bacaan
Setiawan, A. 2013.
Klasifikasi Iklim Schimdth-Ferguson. http://geograph88. blogspot.com/2013/03/klasifikasi-iklim-schmidt-ferguson.html. Diakses tanggal 27 November 2013.
Wibowo, C.2011. Analisis
Sebaran Iklim Klasifikasi Schmidt – Ferguson Menggunakan Sistem Informasi
Geografis Di Kabupaten Bantaeng Sulawesi – Selatan.Skripsi.Makassar: Program Studi Keteknikan Pertanian Jurusan
Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar