Etika menjadi suatu yang penting dalam kehidupan.
Etika mengatur bagaimana manusia harus bertindak atau berperilaku dalam
kehidupan sehari hari. Di dalam etika diajarkan bagaimana manusia hidup dengan
baik secara moral. Etika mengajarkan manusia dalam menentukan hal yang dianggap
baik dan penting dalam kehidupan. Dengan etika manusia bisa menentukan hal baik
yang harus dilakukan dan hal buruk yang harus dihindari. Sekaligus berarti, etika dapat dijadikan pedoman dan pegangan
dalam menentukan kriteria suatu tindakan, bagaimana suatu tindakan dinilai
secara baik atau buruk secara moral. Teori etika dibagi menjadi tiga, yaitu teori
Deontologi, teori teleologi, dan teori keutamaan.
Teori Deontologi
Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon, yang berarti kewajiban dan logos berarti ilmu atau teori. Menurut
teori Deontologi, suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan sesuai
atau tidak tindakan tersebut dengan kewajiban. Sebagai contoh:
Seorang
yang mencuri motor di salah satu kos-kosan di jalan Kalimantan. Dia melakukan
aksinya ini pada malam hari, saat motor milik salah satu anak kos ditaruh di
halaman. Kasus ini baru diketahui oleh si pemilik kos dan anak kos beberapa jam
kemudian. Saat pemilik motor hendak menaruh motornya di garasi. Menurut teori
Deontologi pencuri ini melakukan perbuatan yang buruk, karena si pencuri tidak melakukan kewajibannya sebagai
manusia yang baik. Dia telah mengambil hak milik orang lain tanpa izin dan ini
merupakan suatu perbuatan yang buruk, sehingga wajib dihindari. Dalam teori
deontologi suatu tindakan dianggap baik karena tindakan tersebut baik bagi
dirinya sendiri, sehingga merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan.
Sedangkan suatu tindakan dianggap buruk secara moral karena tindakan itu memang
buruk secara moral, sehingga tindakan tersebut bukan suatu kewajiban yang harus
dilakukan bahkan dihindari.
Teori Teleologi
Teleologi berasal dari bahasa Yunani
telos, yang berarti tujuan, dan logos yang berarti ilmu. Teori ini menilai
suatu perbuatan baik atau buruk dilihat dari tujuan/akibat dari perbuatan
tersebut. Jadi suatu perbuatan dinilai baik kalu bertujuan dan berakibat baik.
Sebaliknya, suatu perbuatan dinilai buruk apabila bertujuan dan berakibat
buruk. Sebagai contoh:
Di
beberapa toko-toko sering memberi uang kembali berupa permen. Hal ini bertujuan
agar uang receh tidak cepat habis dan permen menjadi laku. Akibatnya, banyak
permen terbuang karena tidak semua orang suka permen. Menurut teori teleologi
perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang buruk karena bertujuan buruk dan
berakibat buruk. Si Penjual bertujuan agar uang recehnya tidak cepat habis,
berarti dia hanya ingin untung sendiri dan hal ini termasuk perbuatan yang bertujuan
buruk. Selain itu, akibat yang ditimbulkan adalah banyak permen terbuang. Hal
ini akan mengakibatkan penumpukan sampah anorganik yang akan sulit untuk
diolah. Sekaligus juga, hal ini sangat merugikan bagi konsumen yang tidak suka
permen. Para konsumen tersebut seharusnya masih memiliki beberapa uang receh
untuk investasi atau menabung, tetapi karena uang tersebut dikembalikan dalam
bentuk permen mereka tidak dapat menikmati manfaat uang receh tersebut.
Teori Keutamaan
Teori keutamaan tidak mempersoalkan
suatu tindakan berdasarkan kewajiban dan akibat dari suatu tindakan. Teori keutamaan
lebih mengutamakan pada pengembangan karakter moral pada diri setiap orang. Sebagai
contoh:
Rina
adalah seorang pekerja keras. Dia orang yang tidak pernah putus asa dalam
melakukan segala hal. Dia berusaha untuk
selalu sabar dalam menghadapi berbagai tantangan hidup yang menghampirinya.
Saat menemui kesulitan dalam belajar, dia berusaha untuk tidak pasrah dan
menyerah. Dia terus mencoba sampai dia merasa bisa dan tidak kesulitan dalam
belajar. Dia tidak ingin menjadi orang yang mudah menyerah karena dia
meneladani sifat nabi Muhammad. Setelah memahami dan mempelajari seksama
pengalaman hidup nabi Muhammad, dia merasa tidak pantas untuk mudah menyerah.
Menurutnya pengalaman hidup nabi Muhammad jauh lebih berat dari yang dialaminya
selama ini, tapi beliau mampu sabar dalam menghadapi segala cobaan hidup dan
akhirnya kesuksesan yang beliau dapat. Teori keutamaan menekankan pentingnya
sejarah, dan cerita dongeng serta wayang. Diharapkan dari cerita tersebut kita
dapat menghayati dan mempraktikan
kehebatan moral para tokoh besar. Dengan kata lain, tokoh dan teladan
yang ada dalam cerita menjadi model untuk kita tiru. Seperti Rina yang
meneladani sifat nabi Muhammad. Sehingga terjadi pengembangan karakter moral
dalam diri Rina karena menghayati dan mempraktikan sifat nabi Muhammad.
DAFTAR
PUSTAKA
Keraf, A.S.2010.Etika Lingkungan Hidup.Jakarta: Penerbit
Buku kompas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar