Sabtu, 27 Februari 2016

Spodoptera exigua

Spodoptera exigua atau yang biasa dikenal dengan ulat daun bawang mempunyai mempunyai beberapa variasi warna yaitu hijau, cokelat muda, dan hitam kecoklatan. Ulat yang hidup di dataran tinggi umumnya berwarna coklat. Imago betina meletakkan telur pada daun bawang merah secara berkelompok dan ditutupi oleh bulu-bulu atau sisik dari induknya. Tiap kelompok telur maksimum terdapat 80 butir. Jumlah telur yang dihasilkan seekor betina sekitar 1.000 butir. Telur berwarna putih, berbentuk bulat sampai bulat telur. Larva (ulat) muda terdiri dari enam instar kadang ada juga yang lima instar. Larva berwarna hijau dengan garis-garis hitam pada punggungnya, berukuran 1,2 – 1,5 mm. Sedangkan larva instar lanjut (2-5), berwarna hijau (umumnya didataran rendah) dan berwarna cokelat (umumnya didataran tinggi), dengan garis kuning pada punggungnya. Larva berukuran antara 1,5 – 19 mm, aktif pada malam hari, dan stadium larva berlangsung selama 8-10 hari. Setelah melalui instar akhir, larva mejatuhkan diri ke tanah untuk berkepompong (pupa). Larva S.exigua mempunyai sifat polifag (pemakan segala) Pupa berwarna cokelat muda dengan panjang 9-11 mm. Pupa berada di dalam tanah ± 1 cm, dan sering dijumpai juga pada pangkal batang, terlindung di bawah daun kering. Lama hidup pupa berkisar antara 6 – 7 hari. Siklus hidup dari telur sampai imago adalag 3 – 4 minggu. Ngengat mempunyai sayap depan berwarna cokelat tua dengan garis-garis kurang tegas dan terdapat bintik-bintik hitam, rentangan sayap antara 25-30 mm. Sayap belakang berwarna keputih-putihan dan tepinya bergaris-garis hitam. Ngengat betina mulai bertelur pada umur 2-10 hari
 Panjang ulat penggerek daun ini sekitar 2,5 cm. Sejak telur menetas menjadi ulat, berkepompong, lalu menjadi serangga dewasa membutuhkan waktu kurang lebih 23 hari. Hama ini mempunyai rentangan sayap ngengat yang panjangnya antara 25-30 mm. Sayap depan berwarna coklat tua dengan garis-garis yang kurang tegas dan terdapat pula bintik-bintik hitam. Sayap belakang berwarna keputih-putihan dan tepinya bergaris-garis hitam.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixERCclpCL9VQ15yliBMFHOPVBuc_tX9AnV4Tw8AO8OAo0nF7Wgl2WKz1xEaIH6kYjWLVNUavUxZbqhQSiEsGJ4E0qOBVAtsUkqx5CanRjL3N3JaVHHe3w_70WKyOizXIHDcBGNs-Q3Bn2/s1600/beetarmyworm.jpg

Gejala Serangan
Gejala serangan Spodoptera exigua pada tanaman bawang merah ditandai dengan adanya bercak putih transparan pada daun. Hama ini menyerang daun dengan menggerek ujung pinggiran daun, terutama daun yang masih muda. Akibatnya, pinggiran dan ujung daun terlihat bekas gigitan. Mula-mula Spodoptera exigua melubangi bagian ujung daun lalu masuk ke dalam daun bawang. Akibatnya, ujung-ujung daun nampak terpotong-potong. Selain itu, jaringan bagian dalam daunpun dimakan pula. Akibat serangan ulat ini, daun bawang terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak-bercak putih, akibatnya daun jatuh terkulai.
Serangan yang berat menyebabkan sebagian besar tanaman hampir rata dengan permukaan tanah. Sekitar 40% dari tanaman terserang mampu membentuk tunas lagi, namun pertumbuhannya terhambat. Dari tanaman semacam ini hasil yang dapat dipanen adalah “bawang jogod”, sebutan petani setempat untuk umbi bawang yang berukuran kecil dan berwarna putih serta dimanfaatkan sebagai sayur (Rauf, 1999).
Pengendalian
            Cara pengendalian Spodoptera exigua dapat dilakukan secara mekanis yaitu dengan mengambil telur dan larva yang ada di sekitar pertanaman atau pada tanaman inang. Dapat pula pengendalian hama ini dilakukan dengan pengendalian hayati. Pengendalian ini merupakan pengendalian dengan memanfaatkan musuh alami seperti predator. Beberapa spesies predator  antara lain laba-laba, Solenopsis sp., Paedorus sp., dan Euberellia sp. Pengendalian secara hayati memiliki keuntungan yaitu aman, tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, dan tidak menyebabkan resistensi.
            Selain itu dapat pula dilakukan pengendalian secara kultur teknis dan pengendalian kimiawi. Untuk pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan memodifikasi kegiatan pertanian agar lingkungan pertanaman menjadi tidak menguntungkan bagi perkembangan hama. Usaha-usaha tersebut mencakup sanitasi, pengolahan tanah, pergiliran tanaman, pemupukan berimbang, penggunaan mulsa, dan penggunaan tanaman perangkap. Untuk pengendalian kimiawi digunakan Insektisida yang mempunyai daya racun terhadap serangan hama.

Sumber Bacaan
Rauf, A. 2009. Dinamika Populasi Spodoptera exigua (HUBNER) (Lepidoptera; Noctuidae) pada Pertanaman Bawang Merah di Dataran Rendah. Hama dan Penyakit Tumbuhan, 11 (2): 39-47.

Nurhayati, H.2011. Analisis Hama Ulat Bawang (Spodoptera exigua) pada Tanaman Bawang Merah (Allium cepa). Bogor: Insitut Pertanian Bogor.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar